Ayahku Guru Pertamaku

Aku anak ketiga dari 12 bersaudara dari pasangan H.Danubi Halimi(alm) dan ibu Hj.Dalpah
Aku anak  perempuan dari  6 anak perempuan lainnya.

Sebelum masuk sekolah SD ayahku sudah mengajariku menulis membaca karena di Rumahku sudah ada papan tulis yang biasa dipakai ayahku untuk mengajar
para santrinya.

Sehingga ayahku adalah guru pertama bagiku . Karena orang yang pertama mengajarku menulis dan membaca sebelum sekolah adalah ayahku sendiri . Sehingga saat masuk sekolah Aku sudah bisa menulis dan membaca berkat ayahku . Dan guru di sekolah tidak repot-repot lagi mengajariku menulis dan membaca.

Bukan saja menulis, membaca ayahku pun guruku dalam belajar nahu, sharaf  seperti amil, jurumiyah, matanbina di rumah karena di usia SD kelas 4 aku sudah diajari harus mengaji sorogan (tatap muka langsung dengan ayahku atau ayahku hanya menyimak bacaanku).


Di Usia SD juga ayahku sudah mengajariku tampil di podium dan sering di ajak-ajak bila ayahku mendapat undangan mengisi acara seperti walimatul khitan, walimatul arusy,maulid Nabi SAW, Isro Mi,raj dan lain- lainnya. 

Dalam beberapa kesempatan Aku di kenalkan untuk tampil di podium sebelum Ayahku tampil dengan tujuan mengenalkan kepada halayak atau jamaah , juga mengajariku untuk memberanikan diri atau menguji mentalku di hadapan halayak.

Tidak sampai di situ saja sampai Aku masuk Sekolah Madrasah Tsanawiyah setingkat SMP Ayahku tetap menjadi guruku dia memberiku motivasi dan support yang luar biasa meski   aku tinggal di Pesantren, semua pelajaran  tetap selalu  dikontrol .

Alhamdulillah berkat support dan perhatian dari Ayahku yang begitu besar aku selalu mendapat peringkat 3 besar  di kelas.


Dari MTS aku lanjut Ke Madrasah Aliyah di pesantren yang sama. Selama 6 tahun itu, semuanya berjalan dengan baik. Ayah selalu memenuhi keinginanku asalkan untuk kegiatan belajar. Mesin ketik misalnya.  

Madrasah Aliyahpun ku tuntaskan, dari sini timbul gejolak antara keinginanku melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Jawa Timur dan pengen mengambil jurusan Da,wah plus pengen mondok atau pesantren di kali  wungu dengan keinginan Ayahku yang ingin aku melanjutkan kuliah tidak usah jauh-jauh karena alasan perempuan, tidak ada temanya, dan lokasi yang jauh juga pulang paling 1 tahun sekali.

Dengan alasan itu ku patuhi dan kuturuti keinginan Ayahku . Aku masuk dan daftar di perguruan Tinggi  Negri di Serang yaitu di IAIN SUNAN GUNUNG JATI .

Di kuliah ini  hati kecilku pengen istirahat tidak pesantren  dulu karena pengalaman pesantren sudahlah cukup  selama 6 tahun.

Aku ingin ikut partisipasi berorganisasi di kampus seperti ikut gabung dengan HMI (himpunan Mahasiswa Islam) di kohatinya dan MAHAPEKA (mahasiswa pencinta kelestarian alam ) karena waktu di MTS dan MA aku suka dengan kegiatan PRAMUKA jadi kufikir tinggal melanjutkan di MAHAPEKA ini.

Tapi  rupanya Ayahku tidak ingin kegiatanku hanya Kuliah saja tidak tinggal di pesantren. Menurut Ayahku kalau tidak  tinggal di pesantren   Aku harus ambil kursus agar kegiatanku bertambah dan skillkupun bertambah . 
Ya Allah , ayahku  begitu perhatianya terhadapku padahal biaya yang harus dikelyarkan dabel ya biaya kuluah ya biaya kursus tapi rupanya tidak jadi masalah buat ayahku asal untuk kegiatan belajarku.

di smester pertama aku harus dobel kuliah sambil kursus komputer  
Itupun ku turuti dan ku ikuti aku berfikir oh  ya sudah kalau kata Ayahku baik akan aku turuti dan ku ikuti Saja . 

Duduk di smester 1 dan 2 Aku diberi kesempatan boleh tidak mukim di pesantren dahulu asalkan    tujuannya untuk mencari pengalaman berorganisasi di kampus. 

 Ku gunakan kesempatan emas itu sambil kuliah aku kursus komputer walau di  rumahku belum punya komputer  saat itu.
Dan aku ikut gabung di  HMI dan di MAHAPEKA walau tidak seaktif   aktivis lainnya asalkan aku mempunyai pengalaman dan  pernah masuk dan ikut gabung dan merasakan menjadi bagian organisasi yang aku ikuti tersebut. 

Memasuki smester 4 Aku harus kembali lagi di dunia pesantren seperti yang Ayahku inginkan Aku kuliah sambil pesantren.

Nah jatuhlah pilihan Pesantren kepada PONPES PELAMUNAN  PUTRI  BANI TOHIR yang berlokasi di Pelamunan Kramat Watu  kabupaten Serang . Di pesantren ini husus putri yang pesantren baik husus pondok maupun sambil kuliah.

Rupanya di tanah pelamunan ini juga Ayahku pernah  pesantren saat masih mudanya di Ponpes Pelamunan yang kiyainya KH.TOHIR.

Secara kebetulan entah  taqdir  Aku masuk ke pesantren Putri Bani Tohir yang Pengasuhnya KH Nuruddin 
Adalah merupakan cucu dari abuya Kiyai Tohir kiyainya Ayahku subhanallah . 


Sambil ku ingat-ingat lagi kenanganku kala itu. Aku masuk ke pesantren putri  Bani Tohir pada smester 5 tetapi aku sudah pernah pesantren 6 tahun waktu di MTS dan MA di Renged kecamatan Kresek.

Singkat cerita tidak memerlukan waktu lama selama Aku tinggal di pesantren sambil kuliah ini banyak hikmah yang diambil dari support dan perhatian ayahku .Aku anak baru masuk di pesantren ini tetapi Alhamdulillah sudah  dipercaya mengajar kelas  dasar  dimana santriwatinya lebih lama tinggal di pesantren tersebut. 

dan aku pernah juga menggantikan pengasuh 
 untuk mengisi pengajian ibu-ibu Majlis Ta,lim mingguan yang diasuh kiyaiku. Bermodalkan sedikit ilmu yang kudapat dari ayahku dan pondokku sebelumnya  aku  beranikan diri memenuhi perintah kiyaiku bismillah. Sami,na wa ato,na saja sebagai murid patuh dan taat apa kata kiyai. 

Pada smester 7 dan 8 aku merasakan kewalahan mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan pondok yang padat belum lagi mau KKN ,pengajuan skripsi dan lain-lain.

Dengan izin yang sulit dan memberikan pengertian kepada Ayahku aku memohon pada Ayahku untuk keluar dari pesantren dan tinggal di Asrama putri di dalam komplek kampus agar kegiatan kuliahku tidak ada kendala . 

Dengan berat hati ayahku mengizinkannya aku keluar dari pesantren tersebut dengan izin kiyaiku dan ayahku.

Singkat cerita Kegiatan KKN, pengajuan skripsi, penyusunan Skripsi dan lain-lain sampai  wisudapun terlaksana berkat support dan motivasi dari Ayahku yang begitu besar.

Sambil mengingat-ingat ku tulis kembali caritaku. Setelah lulus kuliah komunikasi dengan ayahku tidak seharmonis saat aku masih sekolah . 

Karena aku sudah sibuk mencari pengalaman mengajar di beberapa sekolahan dan Ayahkupun semakin padat agendanya dalam 1 minggu full sampai-sampai pengen  berbincang-bincang saja tidak ada waktu.

Ayahku, adalah guruku  pertamaku dan inspirasiku, tapi di saat aku sudah punya suami, sekolahan sendiri yang ku olah bersama suami dan keluarga besarku ayahku harus pergi untuk selama-lamanya meninggalkanku, meninggalkan anakku yang belum sempat hadir saat ayahku masih ada  . 

Kesedihanku tidak bisa kubayangkan, bagaimana tidak saat  ayahku sakit   hari jum,at paginya pengen di pijat dan diurut oleh tanganku tapi aku sedang sakit tidak bangun- bangun dari tempat tidur ternyata hari itu hari terahir ayahku pengen di urut dan dipijit olehku. 

Hari jum,at itu hari terakhir ayahku menyapaku dan menegur dan menanyakan kondisiku .hari jum,at itu pula ayahku terahir bisa berkomunikasi denganku ohhhhh tak kuat rasanya  ku teruskan tulisanku ini karena air mataku tidak berhenti membasahi pipiku ,dan  mataku ini rembas dengan air  mataku ini .

Sore itu ayahku sudah terkena stroke dan GTO sehingga sudah tidak bisa berbicara sama sekali.
Ku bawa ayahku ke klinik terdekat, tapu klinikpun angkat tangan, ku lanjut bawa ayahku ke RS paramitha, juga tidak ada perubahan , penasaran langsung ku lanjutkan ku bawa ayahku ke RS Sari  Asih.  

ruang UGD  dan isolasi beberapa hari terahir tempat ayahku berbaring tak sadarkan diri dengan tidak ada perubahan ku cabut dan kubawa Ayahku pulang paksa ke  Rumah . 

rupanya sampai di Rumah Ayahku menghembuskan nafas terahir di tempat dan ruangan biasa aku ngobrol dan ngaji.


Hari itu hari yang sangat ku sesalkan, kalau aku tahu hari itu hari terahir ayahku pengen diurut dan dipijat -pijat oleh tanganku ini pasti aku akan memijat-mijat dan mengurut-urut ayahku.

Rasa duka yang mendalam harus kehilangan sosok ayah yang baik, tegas, perhatian dan sebagai guru pertamaku dan inspirasi dalam hidupku selama bersamanya rupanya dibayar dan diganti oleh Allah SWT dengan kehadiran calon bayi yang ada di janinku yang baru ketahuan setelah 3 hari  kepergian ayahku .

Subhanallah walhamdulillah wa la ilaaha illallaah . Rasa duka bercampur suka cita menyelimuti perasaanku saat itu. 

Satu sisi aku kehilangan ayahku sebagai penyemangatku, inspirasiku  satu  sisi lagi aku di beri amanah pengganti ayahku akan hadir di muka bumi setelah sekian lama aku menunggu kehadirannya.

8 tahun Aku menunggu kehadirannya, Tapi Allah maha segalanya di saat duka yang menyelimuti diriku ini ketentuan Allah berkehendak lain. Mungkin biar aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan Allah langsung ganti   dengan  penghibur sang pelipur lara seorang anak belahan jiwa. 

Yah itulah anakku  lana yang saat ini  baru  memasuki usia 10 tahun. Dan 10 tahun juga ayahku telah pergi meninggalkanku.

Syukroon kasiiroon ayahku dan guru pertamaku juga inspirasiku, semoga apa yang ayahku berikan menjadi amal zariyah dan semoga aku menjadi anak yang sholehah yang selalu mendoakan ayahku yang lebih dulu meninggalkanku 
Lahul fatihah ........!!!!! Dan semoga ilmu -ilmu yang diberikannya menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat aku amalkan Aamiin....ya Robbal alamiin.

Semoga dari tulisanku ini kita tidak lupa dengan jasa-jasa dan pengorbanan orang tua(ayah dan ibu) juga guru yang pernah mengajar kita di manapun dan kapanpun. Aamiin...ya Robbal Alamiin.


#by Millah,S.Ag
#GuruInspirasi PKS
#MerdekaBelajarPKS
@Partai Keadilan Sejahtera




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa sih Merdeka itu ????

Manfaat Ijazah