Ayahku pahlawanku dan teladanku


Aku anak ke 3 dari 12 bersaudara 
dari pasangan KH. Danubi bin KH. halimi bin KH. Abdul Mu, thi dan Hajjah Dalfah binti H. Nasruddin Bin Sarbawi Bin H. Rikun dan Ramisah Binti Kridin


Dari usia sebelum masuk sekolah Ayahkulah yang mengajariku lebih dulu menulis,  membuat tanda tangan dan membaca. Maka tidaklah salah kalau ayahku adalah guru pertamaku,  teladanku dan pahlawanku. 

Dari usia SD ayahku mengajariku bagaimana aku harus bisa mengatur waktu antara belajar,  mengaji sorogan (semacam privat langsung berhadapan dengan ayahku) dan bermain. 

Dari ilmu public speaking(pidato/ceramah di depan publik)  ayahkulah yang mengajariku,  tidaklah heran Alhamdulillah aku sering diajak ayahku menerima undangan di setiap moment-moment keagamaan seperti Acara Maulid Nabi,  isro Mi' raj,  walimatul Arusy,  Wali matussafar,  walimatul Khitan dan lain-lain.  pernah juga sambil mengajakku                 itung-itung mengenaklkanku dan menguji mentalku  kepada halayak aku di berikan waktu untuk mengisi ceramah sebelum             ayahku
tampil dengan materi yang sudah ayahku ajarkan atau konsep yang sudah tertulis. 



Dari usia SD pula aku diajarkan bagaimana belajar ilmu nahu seperti awamil,  jurumiyah,  matan bina (ilmu sharaf) dengan cara nyoret /nyorog  ( langsung berhadapan)      dengan ayahku dengan waktu yang sangat lama sampai-sampai satu waktu aku menangis terisak-isak saat mengaji suaraku parau mataku penuh dengan air mata tetapi ayahku tidak juga memberhentikanku (oh.... Jadi teringat masa itu). 



Ketika Masuk usia sekolah pertama /SMP /MTS aku sudah harus masuk pesantren/pondok dengan catatan materi dasar untuk                masuk pesantren seperti ngaji awamil, jurumiyah harus sudah hatamatau tamat  di rumah,  tinggal mengulas saja nanti di pesantrennya. 


Saat itu,  aku belum faham sama sekali apa isi, dari materi yang aku baca,  aku pelajari saat di rumah saat aku usia SD. 



Alhamdulillah puji syukur kepadamu ya Rob,  saat aku sudah masuk  Pesantren benar saja apa yang sudah ayahku ajarkan di rumah tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang aku pelajari juga di pesantren/pondok,  sehingga tidak mengalami kendala berarti,  aku tinggal mengulas-ulas saja tetapi tetap harus mengulang dari awal lagi. 


Teringat jelas,  saat di rumah aku mengaji dan belajar nasrif seperti hua, huma, hum, hiya, huma, hunna,  anta, antuma,  antum,  anti antuma,  antunna,  ana ,nahnu
Dan juga menerapkannya dalam fiil madi,mudore,amer dan lain-lain.  seperti nasoro,  nasoroo,  nasoruu,  nasorot,  nasorotaa,  nasorna,  nasorta,  nasortuma,  nasortum,  nasorti,  nasotumaa,  nasortunna,  nasortu,  nasornaa. 

Itu semua ayahku yang mengajariku saat aku masih berusia SD(sekolah Dasar). 


Ayahku seorang yang multi talent,  bisa bertani (pernah menanam bawang,  cabe,  mentimun,  kacang panjang, dan lain-lain),  pernah juga menjadi pedagang Bensin , buka setroom accu,  juga bisa berburu dengan mengenakan senapan  bedil laras panjang,  dan aku yang sering mengolah hasil buruan/tangkapan burungnya untuk lauk kami makan. 


Juga yang tidak kalah hebbatnya ayahku juga bisa menjadi mayoret di group marching Band nya saat dia duduk di bangku sekolahnya di MTs Matlaul Anwar menes pandeglang. 

Suaranyapun merdu,  pernh juga menjadi juara MTQ antara peserta jamaah Haji kapal laut di sekitar tahun 1970/1971 an. 


Ayahku pun pandai dalam berbahasa dari bahasa jawa, sunda,  bahasa arab terkecuali bahasa inggris  dan bahasa indonesia dengan baik dan benar beliau kaku tidak sefasih bahasa sunda dan jawa. 




Ayahku tegas,  disiplin, rajin menuntut ilmu,   berani karena benar, itu yang diterapkan dan diajarkan pada kami anak-anaknya,. Sebelum berhasil teruslah berusaha berusaha dan berusaha masalah berhasil atau tidak itu urusan nanti atau belakangan.  


Sikap-sikap seperti pantang menyerah,  berani karena benar,  rajin menuntut ilmu,  sabar dalam menghadapi penderitaan atau ujiian,  mementingkan kepentingan ummat daripada kepentingan  pribadi dan kluarga,  itulah di antara sikap-sikap yang bisa diteladani dari ayahku.  

Suatu waktu,  ayahku diminta untuk hadir dan mengisi acara di suatu acara kluarga,  dan ayahku begitu mudah mengiyakan dan bersedia hadir.  

Aku yang saat itu mendengar percakapan tamu yang meminta ayahku mengisi acara dengan cara dadakan seperti itu, Aku yang keberatan dan merasa tersinggung seolah -olah ayahku kurang dihargai. 


 dimana Ayahku seorang yang super sibuk karena banyaknya jadwal mengisi pengajian di beberapa majlis Ta, lim dan mengisi pengajian para santri asuhannya.  


Dengan bijak ayahku menanggapi keberatanku yang merasa kecewa dengan salah satu warga yang memerlukan ayahku dengan cara dadakan seperti itu. 

Ayahku  mengingatkanku,  dan menasehatiku tidak boleh bersikap sombong dan arogan seperti itu,  mereka memerlukan kita,        kita harus memahami dan memenuhi undangan mereka.   

       
 kemungkinan ada hal-hal  lain yang kita tidak tahu masalahnya. 
Kita itu milik masyarakat,  kapanpun masyarakat atau.warga membutuhkan kita,  kita harus siap sedia memenuhinya  apapun sikonnya. Subhanallah sungguh mulia  budimu ayah. 


Sampai suatu hari,  hari itu hari jum, at,  Adalah jadwal mengisi pengajian di rumah dengan peserta pengajian para asatid dari beberapa Desa sekitar.  ayahku sedang  Tidak enak badan, tetapi maa sya Allah lyarbiasanya ayahku itu,  walaupun dalam kondisi sakit masih tetap menemui para asatid dan mengajar mereka.  


 Aku yang saat itu memang sedang sakit juga dan sudah dinyatakan typus sama dokter , berniat ke toilet dapur orang tuaku karena rumah kami belum ada toiletnya. 

Saat hendak ke toilet ayahku terlihat sedang duduk di ruang makan dan sempat menyapaku,  "bagaimana kondisimu mil"? Saat itu aku tak menjawab karena memang kondisiku juga sedang lemas benar. Aku ngeloyor pergi. 


Moment yang aku sesali sampai sekarang,  kalau aku tahu hari jum, at itu (saat itu,)  hari terahir ayahku menyapaku dan hari terahir ayahku ingin dipijit-pijit badanya atau diurut-urut oleh tanganku karena katanya badanya pada sakit. 


 akan aku pijit-pijit badanya sampai aku terlelah , penyesalan yang tidak bisa aku maafkan,  aku menyesal,  aku merasa bersalah karena aku tidak bisa memenuhi permintaan terahir ayahku hari itu.       Bukan karena aku tidak mau tetapi karena aku sendiri sedang sakit. 


Allah memanggilnya di hari Rabu setelah 1 minggu dirawat di 2 rumah sakit.  Di detik-detik terahir ayahku aku masih    bisa mendampingi       memegang tangan ayahku yang begitu dingin, menuntun mengucapkan syahadatain,  terlihat air matanya menetes dari dua matanya yang terpejam.  Isak tangisku pecah sejadi jadinya air mataku tumpah ruah,   ingin aku teriak ayahhhh bangunnnn ayah,   tetapi ayahku sudah tidak bisa membuka matanya hanya gerakan tangan yang  masih respon karena ayahku terserang stroke GTO. 



Pihak rumah sakit sudah berusaha semaksimal mungkin namun kondisi ayahku sudah tidak bisa tertolong lagi.  Hari itu aku meminta pulang paksa ayahku,  pulang ke rumah agar ayahku menghembuskan nafas terahirnya di ruangan   ayahku biasa  mengajariku,  mengajar para asatid pada setiap jum, at. 



Kesedihan yang mendalam aku ditinggal ayahku,  dimana belum semua cita-citanya terpenuhi.


Ayahku ingin mempunyai komplek pesantren yang luas,  indah dan rapih . Juga yang membuatku sedih adik-adiku 4 orang lagi yang belum disaksikan ayahku untuk dinikahkan 3 di antaranya adik perempuanku. 



Ayah,  dihari pahlawan dan di. Hari ayah sedunia,    aku persembahkan tulisan ini buat ayah,  bahwa ayah adalah guru pertamaku,  Inspirasiku,  Teladanku dan pahlawanku. 


 Allahummagfirlahu war hamhu wa'fu  Anhu lahul fatihah ....!!!

Semoga aku menjadi anak yang solehah, berbakti pada kedua orang tua,   selalu mendoakan , berguna bagi agama,  bangsa dan Negara tercinta  ini Aamiin ya robbal alamin .

Ayah,  akan ku teruskan perjuangan dan cita-citamu menghidupkan pesantren dan memajukan yayasan yang engkau tinggalkan. 

"❤Selamat hari Pahlawan,  dan hari  Ayah sedunia "❤


#by Millah Reli Kab. Tang 
. 














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayahku Guru Pertamaku

Apa sih Merdeka itu ????

Manfaat Ijazah